Mengurai Lepaskan

Aku saat ini ingin pipis, tapi lebih ingin menagis
Aku saat ini lapar, tapi lebih lapar pikiran-pikiran di kepalaku
Aku saat ini kulitku terbakar, tapi lebih terbakar hatiku
Aku saat ini tertawa berbesar besar, tapi lebih teriak jiwaku
Aku saat ini lebih banyak berbicara dengan diri sendiri.
Aku menghembuskan napas pendek pelan pelan, ada setetes cuka asam tepat di tengah-tengah dada ku, dan ketika aku berkedip aku melihat luasan hijau dan membuat ku tersadar aku hidup kembali, bahwa aku kirni berada ditengah garis katulistiwa, garis hayal membelah bumi, seperti hayalku berada pada sisi bagian bumi yang lain, menjauhi mu, laki-laki yang pernah memelihara ku dalam vas dan tidak membelaku saat pecah. 
Aku mendengar bisik-bisik angin mengetuk, ada gumpal batu dalam perutku dan ketika ku mengecap aku merasakan rasa tanah basah dan membuat ku tersadar aku hidup kembali, bahwa aku kini berada pada daratan paling luas dikelilingi laut paling dalam, menjauhi mu, laki-laki yang pernah tumbuh bersamaku dan tidak akan pernah memetik hasilku.
Aku berjalan tegopoh-gopoh kaki ku sakit tubuh ku lemah, aku rindu ibuku, aku ingin menangis di perutnya, memeluk pinggulnya keras keras, dan ketika aku membuka mulut ku menghadap langit, air hujan masuk melalui tenggorakan dan hidungku, membuat ku tersedak dan aku tersedar bahwa aku kini adalah manusia yang baru, bahwa aku yang dulu adalah gadis perkotaan egoisentris dan antagonis menyeruput kopi import dengan syal tebal keluaran butik mahal, bahwa aku yang dulu belajar dari kertas-kertas dan mengetuk-ngetuk jari telunjuk, bahwa aku yang dulu pernah mencintai seseorang dan kini.... aku dapat memahami diriku sendiri dengan damai, dengan alam, dengan Tuhan.