Semesta

Saat ku mulai membangun kembali semestaku, saat aku mulai bangga dengan susunan, keteraturan, keanggunan dan kemegahan jagad raya yang ku punya.
Saat itu sesuatu hadir, mula-mula takjub dengan terbit dan terbenamnya matahari ku, dengan cara bergeraknya bulan-bulan ku, susunan pelanet-pelanet ku yang konstan dan betapa misteriusnya gugusan bintang-bintang yang dapat bercahaya sendiri, jauh.... namun akan ku miliki karna ini kosmosku.
Lalu mulai ku kenalkan dengan satu dua proses, satu dua keindahan, dan satu dua ketidak teraturan. 
Dan sesuatu itu mulai mempertanyakan ku, mengoreksi ku dan berprasangka dengan asal-usul, struktur, hubungan ruang dan waktu ku. silahkan untuk mengetes limit ku, Tuhan saksi ku.
Pada akhirnya sesuatu itu bergerak tak menentu, tidak kenal arah seperti hilang, takut takut akan terseret pada lubang hitam karena belum bisa memahami adanya proses kimia, fisika dan biologi dalam setiap semesta, dalam setiap gugusan, dalam setiap mimpi.
Lalu aku berbisik.... sayang dunia ini fana, semua adalah proses ketiadaan menjadi ada dan kemudian menjadi hancur, terima kasih untuk mencoba mengguncangkan semestaku.

Sesuatu yang tak ku harapkan kehadirannya, sesuatu yang bahkan punya semestanya sendiri.