Malam ini, aku berdoa di depan cermin.

Malam ini, aku berdoa di depan cermin.
Aku berdoa pada suatu Dzat yang melangit, dengan menatap dan mengasihani refleksi diri.

Aku menangis tersedu-sedu, menyesali perbuatanku malam ini. Menangisi semua pertanyaan dan pernyataan yang keluar dari mulutku, sehingga kau membalasnya, memberikan kesempatan padaku untuk melihat siapa dirimu, ibarat cermin kita satu, cermin datar dengan deskripsi buku warna keperakan. tapi pantulan dan gelombang cahayanya berbeda, merefleksikannya dengan cara berbeda, sehingga bayanganku di cermin tidak sama dengan bayanganmu.

Aku menangis tersedu-sedu, mendoakanmu. Berharap cahaya ilmu yang di sekelilingmu tidak menyilaukanmu, ibarat cermin dua arah, kau berada di ruangan dengan cahaya lebih terang dan hanya dapat melihat pantulan cahaya dirmu saja, kau berdiri dengan tangan di pinggang khas dengan ilmu rasionalitasmu, bahwa hal-hal yang tidak sama dengan bayanganmu adalah menjijikan, dan aku mendoakanmu di dalam ruangan lainnya, dengan instensitas cahaya yang lebih redup. Tidak, sayang.. tidak semenjijikan itu dan aku berdoa wahai Dzat yang maha melihat perlihatkanlah kepada dia.

Dan Aku menangis tersedu-sedu, seolah-olah Ia langsung menjawabnya, saat aku bercermin malam ini, Ia memberikan jawabanku atas doa-doa di malam dan pagi ku, bahwa aku pernah berdoa agar diperlihatkanlah takdirku, bahwa seolah-olah Ia langsung menjawabnya, saat aku bercermin malam ini, bahwa takdirku adalah diriku, dan dia adalah refleksi cahaya yang berbeda.

Lalu aku menjauhi cermin. Dan tetap berdoa.
Semoga ini adalah tahapanmu yang lain, untuk menjadikanmu lebih redup, seperti tahapan pertanyaan dan keraguanmu dulu, yang kini telah kau lewati dengan hati yang merunduk, bahwa kau telah memahami ilmu rasionalitas yang terlalu menyilaukan mata, bahwa Wahyu Ilahi adalah cahaya paling sempurna untuk menuntun ke abadian.

Ditulis pada hari merah perayaan Nabi melangit, selesai pukul 1:39 pagi.

Caraku berbicara denganmu.

Kau tau? Pagi tadi aku meminum teh tarik, aku enggak pernah tau kalau teh tarik mengandung kafein seperi kopi, yang jelas saat ini aku enggak bisa tidur, dadaku bekerja tidak seperti biasanya dan ada rongga kecil di ulu hatiku, gejala seperti orang-orang bilang penderita magh tidak boleh kena kopi. Malam ini aku enggak bisa tidur. Aku memberitahu inisialku padanya, aku foxtail dan dia aku namai falcon, aku tau dia tidak akan suka, karena sebenernya dia tidak pernah suka ide-ideku,  ketika dia bertanya aku sedang apa, aku selalu menjawab dengan jawaban yang sama, main hp.
Beberapa waktu lalu kakak kelasku di SMA memposting sebuh tulisan yang intinya dia sangat tidak  senang dengan mereka yang mengantri premier film star wars terbaru, padahal mereka yang mengantri belum tentu mengerti jalan ceritanya, siapa para pemainnya dan bagaimana hubungan film yang akan tayang dengan film-film sebelumnya, yang aku tangkap saat itu adalah kakak kelasku ini penggemar berat film star wars sehingga dia tidak rela orang lain histeris, bagiku dia ingin menunjukkan bahwa dialah yang seharusnya paling antusias.
Aku adalah pribadi yang mudah sekali menceritakan atau membesar-besarkan sesuatu, seseorang atau kajadian, bahasa sederhananya pamer, aku bisa saja menceritakan ke setiap orang betapa bangganya aku memiliki kau sebagai temanku, makanya ketika aku tidak membicarakannya denganmu artinya aku tidak punya sesuatu hal yang pantas aku ceritakan, saat temanku mengomentari temanku yang lain betapa sombongnya dia, aku akan menjadi orang yang membela orang yang dihakimi sombong tersebut, bagiku mereka memiliki, menguasai dan berhak atas sesuatu yang disombongkan.
Tetapi aku bisa menjaminkan kau satu hal, bahwa aku tidak sedikitpun menceritakan atau menjelek-jelekkan sesuatu, seseorang atau kejadian, sederhananya fitnah, jika diharuskan aku untuk menceritakan kejelekan suatu hal, aku akan menyampaikan kepadamu dengan cara yang objektif, tanpa nada tinggi, tanpa harus berbohong. Maksudku bukannya aku tidak pernah berbohong, semua manusia di dunia ini pernah melakukan dosa paling ringan itu, aku hanya menjelaskan padamu bagaimana caraku menjaga integritasku. 
Aku tau kau memang bukan penggemar tulisaku, tapi setidaknya aku tau kau membacanya, aku iri padamu siapapun kau, kalau bisa memilih aku ingin menjadi gadis desa sederhana. Ok stop kata kalau seharusnya tidak ada, tapi aku memang memiliki pilihan tersebut, kata kalau ada karena aku memang takut jika menjadi gadis desa sederhana menjadi kenyataan. Setidaknya impianku hidup cukup, beribadah dan tidak bekerja masih menjadi ambisiku, yang aku tau untuk mewujudkannya aku harus bekerja lebih keras darimu, mengikatkan ikat pinggang lebih erat darimu dan tercebur lumpur lebih dalam darimu. 
Jam menunjukan pukul 12:22 am, hari berganti ke sabtu, besok aku harus mengerjakan ujian penulisan akta, aku akan segera mengakhiri tulisan ini yang lama-lama menjadi kaku, tidak berarah dan sok tau. 2 minggu lagi tahun berganti, aku bisa mengatakan padamu kalau semua daftar planning 2016 ku terceklis dan banyak hal yang terjadi ditahun ini yang tidak ada di dalam daftar perencanaanku, kau boleh menyebutnya sebagai parasit daftar ceklis, tapi aku sangat menikmatinya. Apakah aku telah membuatmu bosan? Aku berjanji tulisanku selanjutnya akan menceritakan betapa aku mengagumi langit. Semoga kau suka pembicaraan kita malam ini, aku menyangimu seperti saudara perempuanku, maafkan aku apapun salahku. 

Mengurai Lepaskan

Aku saat ini ingin pipis, tapi lebih ingin menagis
Aku saat ini lapar, tapi lebih lapar pikiran-pikiran di kepalaku
Aku saat ini kulitku terbakar, tapi lebih terbakar hatiku
Aku saat ini tertawa berbesar besar, tapi lebih teriak jiwaku
Aku saat ini lebih banyak berbicara dengan diri sendiri.
Aku menghembuskan napas pendek pelan pelan, ada setetes cuka asam tepat di tengah-tengah dada ku, dan ketika aku berkedip aku melihat luasan hijau dan membuat ku tersadar aku hidup kembali, bahwa aku kirni berada ditengah garis katulistiwa, garis hayal membelah bumi, seperti hayalku berada pada sisi bagian bumi yang lain, menjauhi mu, laki-laki yang pernah memelihara ku dalam vas dan tidak membelaku saat pecah. 
Aku mendengar bisik-bisik angin mengetuk, ada gumpal batu dalam perutku dan ketika ku mengecap aku merasakan rasa tanah basah dan membuat ku tersadar aku hidup kembali, bahwa aku kini berada pada daratan paling luas dikelilingi laut paling dalam, menjauhi mu, laki-laki yang pernah tumbuh bersamaku dan tidak akan pernah memetik hasilku.
Aku berjalan tegopoh-gopoh kaki ku sakit tubuh ku lemah, aku rindu ibuku, aku ingin menangis di perutnya, memeluk pinggulnya keras keras, dan ketika aku membuka mulut ku menghadap langit, air hujan masuk melalui tenggorakan dan hidungku, membuat ku tersedak dan aku tersedar bahwa aku kini adalah manusia yang baru, bahwa aku yang dulu adalah gadis perkotaan egoisentris dan antagonis menyeruput kopi import dengan syal tebal keluaran butik mahal, bahwa aku yang dulu belajar dari kertas-kertas dan mengetuk-ngetuk jari telunjuk, bahwa aku yang dulu pernah mencintai seseorang dan kini.... aku dapat memahami diriku sendiri dengan damai, dengan alam, dengan Tuhan. 

Pelaut.

Saat ini Desember akhir
hari semakin dingin
langit semakin kelabu
dan hatiku menjadi sendu.

Belum siap aku berlayar
baru memandangi ombak saja aku mual
kepalaku sakit
dan pertanyaanku belum terjawab.

Tujuanku di sebrang pulau
tapi berlayarpun aku tak mampu
sedangkan jalan beberapa langkah ku merindukanmu.

Kasih, sang pelaut menasehatiku setiap pagi
saat ia membereskan tali-talinya atau saat ia menggosok lantai kapalnya
bahwa.. laut indah biru menyegarkan dan aku tidak perlu takut akan bahaya ataupun kematian
huh lihatlah caranya membual, bahwa sebenarnya ada 1001 macam cara aku mati di laut.

Aku mencoba melemparkan pertanyaan dikepalaku kepadanya
dia menjawab, menjawab dengan dialek laut goyang berombak, membuat ku mual tapi gembira
Apakah ini cinta?
jawabannya memberikan arah
seperti kompas
apapun yang keluar dari mulutnya bagiku utara.